Home » Sales » Reseller VS Dropship: Pengertian, Perbedaan dan Keuntungan
reseller-vs-dropship-yezza

Reseller VS Dropship: Pengertian, Perbedaan dan Keuntungan

Seiring berkembangnya zaman, ilmu bisnis kini juga semakin luas dan berkembang. Telah muncul banyak model bisnis yang dipraktekkan oleh banyak pelaku bisnis, terutama model bisnis reseller dan dropship. Namun, banyak juga dari mereka yang belum mengetahui apa perbedaan dari reseller dan dropship.

Banyak pelaku bisnis mengira bahwa reseller sama dengan dropship karena sistem kerja bisnisnya yang hampir sama. Nyatanya, keduanya adalah dua model bisnis yang sama sekali berbeda. Mulai dari definisi, sistem kerjanya, bahkan tingkat resiko dan keuntungannya.

Lantas, apa itu reseller dan dropship? Apa perbedaan reseller dan dropship? Jangan sampai salah lagi, ya! Jika kamu ingin mengetahui apa bedanya reseller dan dropship, ayo simak artikel berikut ini!

Pengertian Reseller dan Dropship

pengertian-perebedaan-keuntungan-reseller-dropship

Source: www.pinterest.com 

Apa itu Reseller?

Reseller adalah seseorang yang membeli produk kepada supplier, lalu menjualnya kembali kepada konsumen. Biasanya dalam hal ini, reseller membeli produk dalam jumlah yang besar karena supplier telah menentukan batas minimum harga dan jumlah item agar reseller dapat menjual kembali produk mereka.

Misalnya, Reseller akan mendapatkan suatu produk seharga Rp. 50.000/item jika reseller membeli minimum 50 item. Harga tersebut jauh lebih murah jika dibandingkan reseller membeli item kurang dari 50 item, karena harganya akan kembali normal yaitu Rp. 60.000/item.

 

Apa itu Dropship?

Dropship merupakan suatu model bisnis dimana penjual menjual suatu produk dari supplier tanpa harus membeli produknya terlebih dahulu. Dalam kata lain, dropshipper berperan sebagai perantara antara supplier dengan konsumen yang ingin membeli suatu produk tertentu.

Dalam model ini, dropshipper tidak memerlukan modal untuk stok produk, mereka hanya membeli produk kepada supplier ketika mereka mendapatkan pesanan dari konsumen. Orang yang melakukan model bisnis ini disebut dropshipper.

 

Perbedaan Reseller dan Dropship

Setelah mengetahui dan memahami definisi dari reseller dan dropship, maka kita juga perlu mengetahui perbedaan di antara keduanya. Pada dasarnya, reseller dan dropship merupakan dua model bisnis yang berbeda. Sehingga, perbedaan reseller dan dropship dapat dilihat dalam beberapa aspek berikut ini:

1. Sistem kerja

Dikarenakan reseller dan dropship merupakan dua model bisnis yang berbeda, maka keduanya pun memiliki sistem kerja yang berbeda juga.

Reseller memperoleh barang langsung dari supplier dalam jumlah yang besar sebagai stok untuk mereka jual kembali kepada konsumennya. Setelah itu, reseller memiliki hak sendiri untuk menentukan harga jual produknya sesuai dengan target konsumen mereka.

Sedangkan, dropshipper tidak perlu melakukan proses stok produk. Dropshipper terlebih dahulu menawarkan produk kepada konsumen. Ketika konsumen tertarik dan ingin membeli, saat ini lah dropshipper membeli produk kepada supplier sesuai dengan jumlah yang diinginkan konsumen. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dropshipper bisa dikatakan sebagai perantara antara supplier dengan konsumen.

2. Perbedaan modal

Dilihat dari perbedaan sistem kerja di antara keduanya, kita pun bisa mengetahui bahwa terdapat perbedaan jumlah modal di antara reseller dan dropship.

Reseller tentu saja harus memiliki modal yang lebih besar karena mereka harus melakukan stok produk untuk konsumennya. Hal ini juga disebabkan oleh kebijakan supplier yang menentukan minimum jumlah item yang harus dibeli untuk mendapat harga yang rendah.

Tentu saja kebijakan tersebut bisa menguntungkan kedua belah pihak. Supplier bisa menjual produk dalam jumlah yang besar, Reseller pun mendapatkan potongan harga beli.

Berbeda dengan reseller, dropshipper tidak perlu melakukan stok produk. Dalam kata lain, dropshipper hampir tidak perlu mengeluarkan modal untuk menjual produknya, karena terkadang pembeli sudah terlebih dahulu membayar pesanannya kepada dropshipper. Pasalnya, dropshipper hanya cukup mengeluarkan modal pulsa dan paket data sebagai sarana informasi produk dari supplier kepada konsumen.

3. Jumlah profit atau keuntungan

Walaupun reseller harus mengeluarkan modal yang lebih besar dalam berbisnis, mereka bisa memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan dropshipper. Hal ini karena reseller mendapatkan potongan harga dari supplier karena telah membeli produk dalam jumlah yang banyak, sehingga reseller setelahnya dapat menentukan harga jual yang mereka inginkan.

Dropshipper memiliki keuntungan yang lebih kecil karena mereka tidak mendapatkan potongan harga dari supplier karena tidak memenuhi kebijakan jumlah minimum pembelian. Selain itu, dropshipper tidak dapat leluasa menentukan harga jual yang tinggi karena pesaing pasar yang bisa jadi menjual produk yang sama dengan harga yang lebih murah. Harga jual yang terlalu tinggi bisa mengakibatkan dropshipper kehilangan konsumennya.

4. Risiko yang ditanggung

Meski melakukan dropship terlihat lebih mudah, hal ini tidak menjamin bahwa dropship juga memiliki risiko dalam penjualan. Dropshipper yang tidak melakukan stok produk, harus sering kali rutin mengecek apakah produk yang diinginkan konsumen masih tersedia di supplier atau tidak.

Terkadang, dropshipper sudah mendapatkan permintaan dari konsumen, namun produk tersebut tidak tersedia di supplier. Mau tidak mau, dropshipper harus menolak permintaan tersebut dan kehilangan permintaan dari konsumen.

Reseller pun memiliki risiko yang tidak kalah berarti. Ketika reseller masih memiliki stok produk yang banyak, namun permintaan konsumen sedikit, di saat itu lah reseller mengalami kerugian karena seluruh produknya tidak dapat terjual. Terkadang, reseller lebih memilih untuk menjual dengan harga yang lebih murah agar konsumen tertarik untuk membeli dan tidak ada stok produk tersisa.

5. Pelayanan kepada konsumen

Perbedaan pelayanan kepada konsumen antara reseller dan dropship juga berbeda. Ketika menerima pesanan, reseller akan melakukan pengemasan dan pengiriman produk kepada konsumen. Sehingga, reseller memberlakukan biaya pengemasan dan pengiriman.

Sedangkan dropshipper hanya perlu menyampaikan pesanan kepada supplier, lalu supplier siap untuk mengemas dan mengirim produk ke alamat yang telah disampaikan oleh dropshipper. Dalam hal ini, dropshipper tidak memberlakukan biaya pengemasan dan pengiriman.

 

Keuntungan Menjadi Reseller dan Dropship

Berdasarkan penjelasan di atas, secara umum dapat kita lihat bahwa reseller dan dropship memiliki keuntungan yang berbeda. Berikut beberapa keuntungan menjadi reseller dan dropship.

Keuntungan menjadi reseller:

  1. Mendapatkan profit yang lebih besar
  2. Bisa menentukan margin keuntungan sendiri
  3. Mengetahui kualitas dan stok produk yang dijual
  4. Mengetahui proses pemesanan dan pengiriman produk

Keuntungan menjadi dropship:

  1. Tidak membutuhkan modal yang besar
  2. Tidak perlu melakukan pengemasan dan pengiriman kepada konsumen
  3. Tidak perlu melakukan stok produk
  4. Bisa menjual berbagai macam produk

Jadi, mana yang lebih menguntungkan, ya? Menjadi reseller atau dropshipper?

pengertian-perbedaan-keuntungan-reseller-dropship-2

Source: www.pinterest.com

Nah, itulah bedanya reseller dan dropship. Mulai dari definisi, sistem kerja, hingga keuntungan di antara keduanya. Melalui artikel ini, kamu tidak perlu bingung lagi mendefinisikan apa itu reseller dan dropship serta perbedaan di antara keduanya.

Pasalnya, kedua model bisnis ini memiliki keuntungan dengan aspek yang berbeda-beda. Seluruh keuntungan ini bergantung kepada diri kita masing-masing. Apakah kita lebih mampu menjalani sebagai reseller atau dropshipper? Jika kita memiliki modal untuk bisnis, reseller bisa menjadi opsi yang baik. Namun, jika tidak, dropshipper menjadi alternatif terbaik untuk memulai terjun ke dunia bisnis. Semoga bermanfaat, ya!

Post navigation

Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.